Reaksi Para Pelaku Properti Mengenai Tax Amnesty

Tax Amnesty

Hingga saat ini berita mengenai Tax Amnesty masih hangat menjadi perbincangan di seluruh kalangan masyarakat, termasuk di kalangan para pelaku properti, baik itu para agen, pengembang, dsb. Tax Amnesty ini merupakan pemotongan pajak, yang mulai dibahas oleh DPR pada akhir Juni 2016. Kebijakan ini pun dinilai dapat mendorong perbaikan di bidang ekonomi nasional. Terutama mendorong sebagian orang yang menhindar pajak dengan menyimpan uang di luar negeri, untuk kembali menyimpan dananya di dalam negeri.

Tax Amnesty

Para pengamat pun juga menilai bahwa kebijakan pengampunan pajak ini akan dapat mendatangkan pemasukan yang bahkan bisa mencapai hingga angka ratusan triliun rupiah. Bank Indonesia pun juga menilai bahwa tax amnesty ini juga akan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional, hingga mencapai titik 0,3 persen. Nantinya dana yang berasal dari luar negeri, dan masuk ke dalam bank-bak nasional tersebut, akan menginvestasikannya ke berbagai bidang, termasuk di bidang properti.

Property

Associate director residential sales & leasing Colliers, International, Aleviery Akbar menuturkan bahwa dengan adanya kebijakan tax amnesty tersebut akan membuat pertumbuhan properti di dalam negeri menjadi lebih menarik. Tentunya secara makro, kebijakan tersebut akan mempengaruhi stabilitas harga properti, dan membuat masyarakat menjadi lebih berani dalam meminjam uang ke bank, yakni KPR. Nantinya pun pihak bank juga akan mempermudah konsumen, dengan menurunkan aturan besaran DP atau uang muka untuk pembelian rumah pertama, dan juga menurunkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah atau KPR.

Aleviery menambahkan bahwa kebijakan ini akan membuat peluang yang sangat menguntungkan bagi para pengembang. Lantaran permintaan akan rumah meningkat. Namun walaupun begitu, dampak tersebut tak langsung dirasakan pada tahun ini, melainkan berkembangan waktu yang terus berputar.

Properti

Berbeda dengan Aleviery, Ongki Sutanto selaku rinciple agen dari Unity21 Property mengukapkan bahwa bisnis properti di dalam negeri hingga saat ini masih dipengaruhi oleh para investor atau spekulan. Kendati permintaan akan tempat tinggal meningkat, namun perlu diketahui bahwa para investor ini kebanyakan memiliki properti yang tak baru lagi, alias lama. Ongki menambahkan bahwa Bank juga akan memudahkan pengajuan kredit hunian, untuk jenis properti yang baru, jika dibandingkan untuk properti lama. Sehingga, stok rumah investasi tetap saja akan menumpuk. Ongki pun juga menyesali terhadap pelayanan bank, lantaran pilih kasih. Akibatnya properti milik para investor lama terjualnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Chandra Wiranata, principle agen Uniland Property. Chandra mengatakan bahwa adanya Tax Amnesty yang nantinya akan berlaku minggu depan ini, tak terlihat efektif jika tidak ada pembenahan yang secara fasilitas oleh bank. Memang suku bunga akan turun 6-9 persen. Namun akan sia-sia jika pihak bank masih tidak adil terhadap properti lama dan properti baru. Sebenernya pula mereka belum mengetahui secara pasti, bagaimana kebijakan ini akan menguntungkan di masa yang akan datang.